Hydroseeding saat ini dikenal sebagai metode revegetasi yang efektif dan efisien. Prosesnya sederhana, cukup semprotkan campuran benih pupuk, dan bahan pendukung ke permukaan lahan, lalu tanaman akan tumbuh merata dan menutupi area.
Karena terlalu praktis, metode ini sering dianggap cukup semprot lalu tumbuh. Padahal tidak selalu benar.
Dalam praktik di lapangan, keberhasilan hydroseeding sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah. Jika kondisi tanah tidak sesuai, benih yang disemprotkan akan gagal tumbuh, hilang atau bahkan mati sebelum tumbuh.
Bukannya menjadi solusi yang efektif, hydroseeding justru bisa gagal karena kondisi tanah. Berdasarkan pengalaman kami di lapangan, kondisi tanah inilah yang membuat hydroseeding jadi rawan gagal!
Tanah Tanpa Pemadatan

Kondisi tanah ini menjadi salah satu penyebab benih menghilang atau membusuk. Bentuk tanah ini seperti pasir. Saat cuaca panas, permukaan tanah mudah lepas dan pecah. Tapi saat hujan turun, tanah berubah menjadi lumpur.
Kita bahas satu-persatu kenapa kondisi tanah tanpa pemadatan bisa mengakibatkan hydroseeding rawan gagal
Mudah Lepas

Tanah mudah lepas seringkali kami temukan di area jalan hauling. Tanah ini memiliki tekstur seperti pasir. Karena tidak ada pemadatan, tanah seperti ini tidak dapat mengikat partikel tanah dengan kuat.
Jadi begitu hujan turun, permukaannya akan mudah tergerus dan mengalami aliran permukaan (run off) atau erosi. Bahkan saat cuaca cerah dapat mengalami erosi. Kondisi inilah yang membuat hydroseeding menjadi rawan gagal.
Ketika benih disemprotkan ke tanah, benih tidak memiliki media yang stabil untuk menempel. Jadi benih rawan tergerus oleh erosi tanah. Pada akhirnya, benih menghilang, tanaman tidak tumbuh secara rapat dan hasil hydroseeding seolah-olah tidak berhasil.
Berlumpur

Kondisi tanah yang berlumpur dapat menjadi penyebab hydroseeding menjadi gagal. Tanah berlumpur terjadi karena air masuk pori-pori tanah dalam jumlah yang besar. Sehingga tanah menjadi lembab dan mudah bergerak.
Kalau kondisi tanah berlumpur dan bahan hydroseeding tidak sesuai, benih yang sudah disemprotkan bisa berpindah, hilang atau bahkan membusuk.
Akibatnya, meskipun hydroseeding sudah dilakukan, benih tidak menunjukan tanda-tanda pertumbuhan dan tanah pun tetap sama saja.
Clayshale

Clayshale ini merupakan jenis tanah yang sangat tidak stabil. Jenis tanah ini pernah kami temui di area lereng seperti hauling road, jalan tol dan void pertambangan.
Karakteristik tanah ini mudah lepas, mudah berlumpur, rawan erosi dan memiliki struktur tanah yang labil. Nah, bisa kebayang, kalau hydroseeding langsung dilakukan tanpa treatment yang tepat.
Baca Juga: Rawan Erosi! Ini Pentingnya Erosion Control Pada Clay Shale Soil
Benih yang sudah disemprotkan bisa hilang atau membusuk sehingga hasil penyemprotan hydroseeding menjadi gagal.
Kondisi tanah tanpa pemadatan membuat proses hydroseeding terlihat sulit tapi tetap bisa diterapkan, asalkan penggunaan bahan hydroseeding yang tepat.
Nah, pada kasus ini, kami menggunakan mulsa hydroseeding serta perekat khusus (tackifier) yang kami mix di dalam mesin hydroseeding. Jadi begitu benih disemprotkan, benih akan merekat ke tanah dengan kuat.
Untuk menghindari benih hilang akibat erosi run off, kami juga menggunakan mulsa hydroseeding yang dapat dijadikan selimut pelindung sementara sampai benih dapat tumbuh secara mandiri.
Tanah Marginal

Tanah marginal adalah kondisi yang minim pH, minim unsur hara dan rawan erosi. Jadi, tanah marginal ini merupakan kondisi tanah yang kritis dan tidak subur bagi tanaman.
Kondisi tanah ini sering kami temui di area tambang, karena aktivitasnya selalu berkaitan dengan bahan kimia. Kondisi tanah marginal menjadi tantangan berat untuk kegiatan hydroseeding. Berikut ini alasannya:
Minim Unsur Hara

Pada kondisi ini, benih yang disemprotkan tidak memiliki cukup nutrisi untuk pertumbuhan akar dan daun. Akibatnya, tanaman mungkin tumbuh di awal, namun dalam waktu singkat akan mati.
Kalau kondisi tanah seperti ini, keberhasilan hydroseeding hanya bergantung pada bahan yang digunakan. Bahan hydroseeding yang kaya unsur hara atau dikombinasikan dengan zat pendukung pertumbuhan dapat membantu menyediakan nutrisi awal bagi tanaman.
Minim pH

Kondisi tanah minim pH atau bersifat asam menjadi tantangan dalam proses hydroseeding. Kondisi tanah minim pH biasanya kami temukan di area pasca tambang dan bendungan, terutama area yang sering dilalui oleh kendaraan berat tambang.
Bahkan, kami pernah menemukan kondisi tanah yang terlalu asam sehingga mengharuskan tim kami menggunakan sarung tangan khusus agar tidak terjadi iritasi kulit.
Bisa dibayangkan jika dilakukan hydroseeding. Begitu proses penyemprotan selesai, benih akan langsung mati dan mengering. Akibatnya, hydroseeding menjadi gagal total.
Walaupun kondisi tanah minim pH dan bersifat asam, tetap bisa kok dilakukan asal sudah dilakukan treatment dahulu.
Kalau kasus tanah asam, kami menggunakan pupuk dolomit yang berfungsi sebagai penetral tanah asam. Begitu pH tanah sudah netral, selanjutnya kami baru melakukan hydroseeding.
Terkontaminasi Kimia

Kondisi tanah inilah yang menjadi tantangan terbesar dalam pelaksanaan hydroseeding. Kenapa demikian? Tanah yang terkontaminasi bahan kimia memiliki kandungan toksik yang dapat meracuni benih.
Begitu penyemprotan benih dilakukan, benih hanya tumbuh sesaat saja lalu mati. Bahkan tidak dapat tumbuh sama sekali.
Kondisi tanah seperti ini seringkali ditemui di area pasca tambang. Sisah bahan kimia dari proses pertambangan dan polusi kendaraan berat dapat mengubah pH tanah menjadi asam.
Secara kasat mata, tanah terlihat normal dan dapat ditumbuhi tanaman. Tapi secara kimia, tanah menjadi tempat beracun bagi tanaman. Maka itu, penanganan hydroseeding di tanah terkontaminasi tidak bisa dilakukan secara instan.
Proses hydroseeding perlu dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal dilakukan bioremediasi lahan. Di tahap ini kami menggunakan top soil pengganti tanah yang berperan sebagai pengurai kadar toksik pada tanah.
Selain Top soil, kami juga menggunakan pupuk organik cair sebagai sumber unsur hara agar tanah menjadi layak untuk ditumbuhi tanaman.
Di tahap akhir, barulah kami melakukan penyemprotan benih, mulsa hydroseeding serta pupuk organik cair. Pupuk organik cair ini kami gunakan kembali namun dengan dosis yang lebih sedikit. Supaya tanaman dapat tumbuh dengan cepat dan mandiri.
Ingat, jika proses bioremediasi tidak efektif, maka proses hydroseeding akan nihil karena benih tidak dapat tumbuh atau hanya tumbuh sebentar saja.
Lereng Curam

Lereng curam memang menjadi salah satu area yang paling sering ditangani dengan metode hydroseeding. Tujuannya jelas, yaitu untuk menghindari aliran runoff, mengurangi erosi, dan mencegah terjadinya longsor.
Secara konsep, hydroseeding sangat cocok digunakan pada area lereng. Namun dalam praktiknya, lereng yang terlalu curam justru dapat membuat hydroseeding menjadi rawan gagal.
Jika campuran benih tidak mampu melekat dengan kuat pada permukaan tanah, benih akan mudah meluncur ke bawah mengikuti gravitasi dan aliran air.
Akibatnya, pertumbuhan tanaman menjadi tidak merata. Tanaman lebih banyak tumbuh di bagian bawah lereng, sementara area atas lereng justru tidak ditumbuhi tanaman sama sekali.
Kalau kondisi lereng curam, pendekatan yang digunakan yaitu menggunakan mulsa hydroseeding dan perekat khusus (tackifier) yang kami mix di dalam mesin hydroseeding kami. Cairan hydroseeding menjadi sangat kental.
Begitu disemprotkan ke tanah, benih dan cairan hydroseeding akan menempel dengan kuat walaupun berada di lereng yang curam. Dengan demikian, hasil hydroseeding di lereng dapat tertutup rapat oleh tanaman. Hasil penghijauan merata dan lereng terlindungi dari erosi secara alami.
Walaupun banyak kondisi tanah yang tergolong sulit untuk hydroseeding, metode ini tetap bisa diterapkan asalkan pendekatan yang dilakukan tepat.
Hydroseeding bukan hanya berbicara soal menyemprot lalu tumbuh, tapi juga bahan dan mesin hydroseeding yang digunakan.






