Area lereng seringkali menjadi wilayah yang rawan erosi. Kalau lokasi lereng jauh dari aktivitas masyarakat, mungkin tidak jadi masalah.
Tapi, kalau area yang rawan erosi justru dekat dengan infrastruktur jalan, area tambang, atau lingkungan padat penduduk, tentu akan memicu masalah baru.
Kenapa erosi bisa terjadi di area lereng? Anda dapat melihat video di bawah ini
Untuk lebih jelasnya, kita bahas di topik selanjutnya
Faktor Area Lereng Jadi Rawan Erosi
Ada beberapa faktor yang menyebabkan lereng jadi rawan erosi, yaitu:
Geometri Lereng

Geometri lereng atau bentuk fisik lereng menjadi pengaruh besar terhadap resiko terjadinya erosi.
Pertama, tingkat kecuraman. Area lereng yang terlalu terjal atau tegak, sangat rawan terjadinya erosi karena adanya gaya gravitasi yang menarik tanah ke bawah menjadi lebih kuat.
Apalagi kalau area lereng yang terjal memiliki kohesi tanah yang rendah, erosi bisa terjadi kapan saja, terutama saat hujan lebat.
Kedua, panjang lereng. Maksudnya adalah, area miring yang melandai turun ke bawah dengan bentangan jarak yang cukup jauh tanpa putus.
Kondisi ini dapat menjadi berbahaya karena saat hujan turun, air dari atas akan mengalir ke bawah tanpa ada penghalang (obstacle) yang bisa memperlambat kecepatannya.
Akibatnya, aliran runoff akan menjadi sangat deras dan menggerus lapisan tanah dengan cepat hingga memicu erosi di bagian bawah lereng.
Kohesi Tanah atau Batuan

Kohesi adalah gaya tarik-menarik atau daya rekat alami antar-butiran tanah dan batuan . Semakin besar nilai kohesi di area lereng, semakin kuat tanah menahan pengikisan.
Tingkat kohesi tanah di area lereng bisa dipengaruhi adanya vegetasi di sekitarnya. Masalahnya, seringkali menganggap kalau area lereng sudah ditumbuhi rumput, sudah pasti bakal aman dari erosi. Padahal tidak juga.
Coba lihat gambar di bawah ini

Dari foto di atas, area lereng ditumbuhi rumput tapi tetap terjadi erosi. Hal ini karena:
1. Rumput yang digunakan adalah rumput liar dengan perakaran lemah dan panjang akarnya hanya 10-20cm.
2. Penanaman pohon di area kemiringan lereng justru menambah beban. Semakin besar pohon di area lereng dapat membuat akar pohon mengikis tanah dan pada akhirnya pohon akan tumbang.
3. Tidak adanya tanaman vetiver di ujung bench sehingga tanah tidak ada daya cengkram dan aliran runoff juga lebih cepat.
Untuk solusinya bisa dilakukan dengan cara:
1. Penanaman vetiver di ujung bench untuk memperkuat perakaran dan meredam getaran kendaraan berat.
2. Penebangan pohon di lereng dan penanaman pohon di lahan landai bagian bawah lereng.
Tidak Ada Vegetasi Area Lereng

Kalau di area lereng tidak ada vegetasi, kondisinya jauh lebih berbahaya. Tanpa adanya penutup hijau, air hujan akan langsung menghantam permukaan tanah dengan kecepatan tinggi. Struktur tanah jadi mudah hancur, kohesi tanah menjadi rendah dan mudah terkikis.
Ditambah lagi, saat air hujan mulai berkumpul dan mengalir turun ke bawah tebing. Laju air (runoff) akan bergerak dengan cepat dan pengikisan di area lereng semakin parah.
Pada akhirnya, tinggal menunggu waktunya terjadi bencana tanah longsor atau banjir bandang.
Tinggi Muka Air Tanah

Tinggi muka air di area lereng dapat memicu terjadinya erosi dan bahkan longsor. Semakin tinggi muka air tanah, bobot isi tanah juga semakin berat dan semakin mudah juga untuk terjadinya longsor.
Terlebih, kalau di area lereng gundul tanpa vegetasi, air hujan akan dengan sangat mudah meresap dan menjenuhi rongga tanah.
Akibatnya, tanah menjadi sangat berat karena menampung air. Ketika tanah sudah jenuh, struktur lereng akan langsung runtuh dan memicu bencana longsor.
Struktur Geologi

Beda cerita kalau erosi diakibatkan faktor geologi seperti sesar, patahan atau kekar (Rekahan alami).
Faktor ini sangat sulit dimitigasi karena posisi struktur di dalam tanah dan pergerakan strukturnya tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi.
Curah Hujan Ekstrim

Curah hujan yang ekstrim dapat memicu terjadinya erosi. Ketika hujan lebat mengguyur dalam waktu lama, terutama di area minim resapan air, volume air yang masuk ke dalam tanah akan menjadi penuh.
Kondisi ini membuat tanah jadi seperti lumpur, ikatan tanah menjadi lunak dan memicu terjadinya erosi, bahkan tanah longsor.

Gaya Getaran

Gaya getaran seperti kendaraan berat dapat menyebabkan ikatan tanah jadi lemah dan kurang stabil.
Akibatnya, struktur lereng jadi longgar, kurang stabil dan terjadi erosi. Kasus ini sering terjadi di area lereng di pinggir jalan raya, salah satunya yang tadi kita bahas, yaitu: exit tol JORR Kalimalang.
Karena sebagian besar faktor erosi berakar dari rendahnya kohesi tanah dan derasnya aliran air permukaan (runoff), maka tindakan erosion control wajib segera dilakukan sebelum berdampak luas.
Lalu bagaimana cara penanganan yang tepat? Apakah harus menggunakan pembetonan area lereng? Mungkin efektif tapi biayanya tidak efisien karena butuh perawatan yang mahal.
Maka dari itu, Antares memiliki solusi erosion control dengan memanfaatkan vegetasi alami, seperti penanaman LCC (Legume Cover Crop), vetiver, hingga pohon berakar kuat.
Pendekatan ini kami terapkan di seluruh area yang rawan erosi, seperti tambang, bendungan dan area jalan. Kita bahas langkah detailnya di bawah ini ya!
Penanganan Antares Dalam Erosion Control
Berikut langkah Antares dalam menangani erosion control:
1. Pemasangan Cocomesh

Langkah pertama yang tim Antares lakukan di lapangan adalah melakukan pemasangan cocomesh. Cocomesh adalah jaring selimut yang terbuat dari 100% anyaman serat sabut kelapa alami.
Antares memilih cocomesh karena sifatnya yang ramah lingkungan dan dapat terurai secara hayati (Biodegradable). Hasil degradasi alami dari sabut kelapa ini dapat diserap oleh tanah sebagai bahan organik yang dapat meningkatkan unsur hara bagi tanaman.
Selain itu, struktur cocomesh juga fleksibel sehingga mampu mengikuti kontur tanah dengan rapat dan tidak menyisakan banyak celah.

Cocomesh dibentangkan di sepanjang area lereng untuk melindungi permukaan tanah dan benih hydroseding dari gerusan air (runoff).
Jaring-jaring cocomesh yang tebal dengan pola anyaman yang rapat, dapat menahan dan memecah aliran run off dari hujan. Efeknya, tanah tetap aman dari erosi dan benih tanaman tetap di posisinya sampai proses berkecambah.
2. Proses Penyemprotan Hydroseeding

Proses penyemprotan harus dilakukan dengan menggunakan mesin hydroseeding support cairan kental, karena isi bahan yang kami gunakan yaitu: mulsa, tackifier, benih, air dan unsur hara, yang dimana campurannya jadi sangat kental.
Untuk masing-masing peran campuran bahan hydroseeding, anda dapat melihatnya di artikel kami: Bahan Hydroseeding Tepat: Kunci Sukses Revegetasi Lahan Kritis.
Benih yang kami andalkan dalam hydroseeding adalah LCC (Legume Cover Crop). Benih ini kami manfaatkan karena memiliki perakaran yang kuat ke dalam tanah dan mengikat partikel-partikel tanah dengan rapat.
LCC juga merupakan tanaman merambat dengan pertumbuhan daun yang sangat lebat dan rapat di permukaan. Sebagai gambarannya, anda dapat melihat dokumentasi proyek kami di bawah ini:

Gambar di atas adalah hasil pertumbuhan LCC di area tambang stargate.
Daun LCC yang lebat akan meredam hantaman air hujan ke tanah. Selain itu, karena akar tanaman lebih rapat, aliran air permukaan (Runoff) juga akan terhambat sehingga akan sulit untuk mengikis tanah.
Kombinasi inilah yang membuat perlindungan erosi bisa diandalkan untuk jangka panjang.
3. Perawatan dan Monitoring

Dalam proses perawatan, kami melakukan penyiraman rutin, pengecekan dan membuang tanaman parasit.
Tujuan dari perawatan ini untuk memastikan bahwa tanaman tumbuh dengan sehat dan merapat sempurna ke seluruh area lereng.
Perlu diingat, vegetasi di area lereng harus benar-benar tertutup rapat tanpa celah. Karena kalau ada area yang bolong atau gundur, air hujan dapat menghantam area tersebut dan menjadi sumber aliran runoff. Pada akhirnya, erosi tetap saja terjadi.
Maka itu, perawatan ini perlu dilakukan sampai tanaman bisa tumbuh secara mandiri.
4. Penanaman Vetiver

Dalam Metode Antares Erosion Control, penanaman vetiver (akar wangi) sebenarnya bersifat opsional karena kita sudah mengandalkan LCC sebagai selimut pelindung utama di permukaan tebing.
Walaupun begitu, vetiver tetap dapat dimanfaatkan sebagai penahan aliran runoff di titik krusial, seperti ujung bench atau jalur aliran air yang sangat deras.
Akar vetiver dapat menembus ke dalam tanah hingga 5 meter sehingga dapat berfungsi sebagai paku bumi alami untuk menjaga lereng tetap stabil.
Sementara itu, daun dari vetiver juga dapat memecah sisah aliran runoff di bawah lapisan daun LCC sehingga area lereng memiliki selimut pelindung yang berlapis.
5. Penanaman Pohon

Langkah opsional terakhir dalam metode kami adalah penanaman pohon berakar kuat. Perlu diingat, pohon-pohon ini ditanam secara khusus di area bench terasering atau lahan datar di sekitar tebing, bukan di bagian lereng yang miring.
Penanaman pohon menjadi langkah opsional karena sesuai dengan kebutuhan spesifik dan permintaan di lapangan.
Proses penanaman pohon direkomendasikan sebelum proses hydroseeding dimulai.
Tujuannya adalah memberikan waktu bagi bibit pohon agar bisa tumbuh, berakar, dan beradaptasi dengan lingkungan baru terlebih dahulu tanpa gangguan.
Kalau urutannya dibalik, bibit pohon yang masih muda akan kalah saing dan berisiko mati karena terlilit oleh pertumbuhan tanaman merambat LCC yang sangat cepat.

Idealnya, berikan jeda sekitar 1 bulan setelah penanaman pohon sampai pohon sudah adaptasi dengan lingkungan, baru penyemprotan hydroseeding bisa dieksekusi.
Walaupun sifatnya opsional, adanya pohon yang berakar dalam dapat memberikan dampak besar di area lereng.
Sistem perakarannya yang besar mampu mencengkeram dan mengikat partikel tanah dalam skala besar, sehingga memperkuat struktur pondasi lereng secara menyeluruh.
Selain itu, daun pohon yang rimbun juga menciptakan lapisan perlindungan erosi yang berlapis di permukaan.
Ketika hujan lebat turun, hantaman air hujan akan diredam oleh pohon sebelum menyentuh lapisan LCC. Hasilnya, redaman energi air hujan menjadi benar-benar maksimal.
Penanaman pohon juga memberikan kesan kesan lingkungan yang lebih asri, hijau, dan memiliki estetika yang tinggi.
Apakah Erosion Control Perlu Bioremediasi Lahan?
Jawabannya tentu saja iya, terutama jika Anda menghadapi kondisi tanah marginal.
Kondisi tanah marginal atau tanah dengan kualitas hara buruk menjadi sebuah kasus khusus (special case) yang membutuhkan penanganan ekstra.

Jika proyek Anda berada di atas tanah normal, 5 tahapan Metode Antares yang kita bahas di atas sudah lebih dari cukup.
Namun, jika karakteristik tanahnya sudah masuk kategori marginal, perlakuannya wajib disesuaikan terlebih dahulu melalui proses Bioremediasi Lahan.
Satu hal yang perlu diingat, jangan mengira bahwa tanah marginal yang rusak atau asam hanya ditemukan di area pertambangan saja. Area tambang terkadang masih memiliki kondisi normal.
Justru area seperti bendungan pun juga memiliki karakter tanah yang asam. Salah satu contohnya yaitu bendungan way apu yang pernah kami kerjakan.

Di sinilah kunci sukses dari Antares: Proses bioremediasi lahan wajib diselesaikan secara tuntas sebelum penyemprotan hydroseeding dimulai.
Kenapa tidak boleh hydroseeding dulu? Karena kalau dipaksakan, benih akan langsung mati dan gagal berkecambah.
Dengan melakukan bioremediasi lahan di awal, tanah yang awalnya marginal kembali hidup dan menjadi tanah yang gembur.
Penutup
Setiap area lereng, punya tantangannya masing-masing, mulai dari masalah rendahnya kohesi, tidak adanya vegetasi, atau bahkan area lereng termasuk tanah marginal.
Maka dari itu, kami menggunakan solusi erosion control yang memanfaatkan tanaman sebagai mitigasi erosi jangka panjang dan alami.





