Tanah yang terlalu asam, terutama dengan pH di bawah 5, dapat menjadi masalah bagi pertanian dan perkebunan.
Kondisi ini membuat tanaman sulit menyerap unsur hara secara optimal sehingga pertumbuhannya terganggu. Gejalanya dapat terlihat, seperti tanaman tumbuh kerdil, daun menguning hingga tanaman mulai layu.
Masalahnya, kalau kita menganggap tanaman tidak tumbuh optimal langsung dikasih pupuk urea atau NPK tanpa mengecek pH tanah, justru membuat tanah semakin asam!
Bagaimana kita bisa mengetahui tanah tersebut sudah terlalu asam? Yuk kita bahas disini!
Cara Mengetahui pH Tanah Dengan Akurat
Perlu diingat, pengukuran pH tanah tidak bisa dilakukan pada satu titik.
Kondisi pH dapat berbeda antara satu bagian lahan dengan bagian lainnya, sehingga pengukuran dari beberapa titik akan memberikan gambaran yang lebih mendekati dengan kondisi tanah secara keseluruhan.
Berikut 3 cara yang bisa Anda gunakan untuk mengetahui pH tanah dengan akurat:
Ukur Dengan pH Meter

Cara paling praktis untuk mengetahui tingkat keasaman tanah adalah menggunakan pH meter.
Alat ini dapat memberikan nilai pH secara langsung sehingga kita bisa mengetahui apakah kondisi tanah terlalu asam, netral, atau berada pada kisaran yang sesuai untuk tanaman.
Untuk pH meter yang menggunakan probe tanah, penggunaannya cukup dengan memasukkan sensor ke area tanah yang ingin diperiksa, kemudian tunggu hingga angka pada indikator stabil.
Alat pH meter lebih cocok digunakan untuk pengecekan dan monitoring kondisi pH tanah secara berkala.
Dengan melakukan pengukuran secara rutin, perubahan pH tanah dapat diketahui lebih awal sehingga tindakan yang diperlukan dapat dilakukan sebelum kondisi tanah semakin asam.
Menggunakan Kertas Indikator pH (Lakmus)

Jika ingin menggunakan cara yang lebih ekonomis, Anda dapat menggunakan kertas indikator pH universal yang sering disebut sebagai kertas lakmus.
Metode ini dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran awal mengenai tingkat keasaman tanah tanpa perlu membeli pH meter.
Caranya, campurkan sampel tanah dengan air, kemudian celupkan kertas indikator pH ke dalam campuran tersebut.
Setelah warna kertas berubah, cocokkan warnanya dengan tabel indikator yang tersedia untuk mengetahui perkiraan nilai pH.
Namun, tingkat keakuratannya tidak sama dengan pH meter. Kertas indikator umumnya memberikan hasil dalam bentuk rentang atau perkiraan nilai pH, sedangkan pH meter dapat memberikan angka yang lebih detail, misalnya pH 5,6.
Selain itu, hasil pengukuran menggunakan kertas indikator juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik air yang digunakan. Jika air memiliki pH yang terlalu asam atau basa, hasil pengukuran dapat menjadi kurang representatif terhadap kondisi tanah.
Meski begitu, kertas indikator pH tetap dapat menjadi pilihan ekonomis untuk melakukan pengecekan awal sebelum menggunakan alat pengukur yang lebih akurat.
Uji Laboratorium Tanah

Pilihan terakhir adalah melakukan pengujian sampel tanah di laboratorium.
Analisis laboratorium dapat memberikan informasi yang lebih lengkap, bukan hanya mengenai nilai pH tanah, tetapi juga berbagai karakteristik dan kandungan tanah yang berkaitan dengan kondisi keasamannya.
Karena membutuhkan biaya dan proses pengambilan serta pengiriman sampel, pengujian laboratorium lebih cocok dilakukan ketika masalah tanah sudah cukup kompleks atau sulit ditangani hanya berdasarkan pengukuran pH di lapangan.
Hasil pengujian tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan treatment yang lebih tepat sesuai dengan kondisi tanah, termasuk kebutuhan pengapuran dan pengelolaan tanah lainnya.
Apa Yang Menyebabkan Tanah jadi Asam?
Berikut beberapa faktor yang menyebabkan tanah jadi asam yaitu:
Curah Hujan Tinggi

Curah hujan yang terus-menerus dapat memengaruhi keseimbangan kimia tanah.
Pasalnya, air hujan dapat menyebabkan proses pencucian (leaching) kation basa seperti Ca²⁺, Mg²⁺, K⁺, dan Na⁺ dari dalam tanah.
Jika berlangsung dalam waktu lama, proses ini dapat mengurangi kandungan kation basa yang berperan dalam mempertahankan kondisi tanah.
Ketika kation basa banyak tercuci, posisi tersebut akan lebih banyak ditempati oleh ion hidrogen (H⁺) dan aluminium (Al³⁺).
Peningkatan H⁺ inilah yang berkontribusi terhadap penurunan pH dan membuat tanah menjadi semakin asam.
Jadi, secara sederhana prosesnya seperti di bawah ini:

Overdosis Pupuk Nitrogen

Nitrogen merupakan unsur penting bagi pertumbuhan tanaman. tapi, penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan dan terus-menerus justru membuat tanah menjadi asam.
Salah satu mekanismenya terjadi melalui proses nitrifikasi, yaitu ketika amonium (NH₄⁺) di dalam tanah diubah oleh mikroorganisme menjadi nitrit (NO₂⁻) dan kemudian nitrat (NO₃⁻).
Dalam rangkaian proses tersebut, ion hidrogen (H⁺) dilepaskan ke dalam tanah. Jika berlangsung secara intensif dan terus-menerus, peningkatan H⁺ dapat menurunkan pH tanah.
Nitrogen memiliki proses nitrifikasi yang pada tanah yang awalnya NH4+ menjadi NO3- dan H+. Kandungan NO3- ini memang penting untuk pertumbuhan produksi tanaman. Masalahnya adalah hasil nitrifikasi nitrogen menghasilkan ion hidrogen.
Padahal, nitrat (NO₃⁻) sendiri merupakan salah satu bentuk nitrogen yang dapat dimanfaatkan tanaman. Masalahnya muncul ketika pupuk nitrogen diberikan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah.
Sebagai contoh, penggunan pupuk urea mengandung sekitar 46% nitrogen.
Baca Juga: Penyebab dan Cara Mencegah Cabai Kerdil
Ketika tanaman terlihat layu atau pertumbuhannya kurang optimal, pemberian urea secara berlebihan tanpa mengetahui penyebab sebenarnya justru dapat memperburuk kondisi tanah. Penggunaan nitrogen yang berlebihan dan berulang dapat meningkatkan potensi pengasaman tanah.
Jadi, tanaman layu tidak selalu berarti kekurangan nitrogen. Sebelum menambahkan pupuk, sebaiknya periksa terlebih dahulu kondisi tanah, termasuk nilai pH-nya.
Genangan Air Terlalu Lama

Genangan air yang berlangsung terlalu lama dapat mempengaruhi kualitas tanah, termasuk kondisi pH, meskipun pengaruhnya tidak terjadi secara instan.
Kondisi ini sering tidak disadari ketika sistem drainase tanah kurang baik.
Ketika tanah terus-menerus tergenang, pori-pori tanah dipenuhi air sehingga pertukaran oksigen menjadi sangat terbatas. Akibatnya, kandungan oksigen di dalam tanah menurun dan menciptakan kondisi anaerob.
Dalam kondisi anaerob, aktivitas mikroorganisme dan proses penguraian bahan organik dapat berubah.
Pada kondisi tertentu, proses penguraian tersebut dapat menghasilkan senyawa organik seperti asam asetat, asam laktat, dan asam butirat. Jika senyawa-senyawa tersebut terkumpul dalam jumlah banyak, kondisi kimia tanah pH dapat menurun.
Jadi, genangan air bukan penyebab langsung tanah menjadi asam, tetapi dapat menciptakan kondisi yang dapat mempengaruhi keseimbangan kimia dan biologis tanah.
Karena prosesnya berlangsung secara bertahap dan sering tidak terlihat, kondisi ini perlu diperhatikan terutama pada lahan dengan drainase yang buruk.
Tercemar Air Asam

Jika air yang digunakan untuk menyiram tanaman memiliki pH yang rendah, penggunaan secara terus-menerus dapat memengaruhi kondisi kimia tanah.
Air dengan pH rendah memiliki konsentrasi ion hidrogen (H⁺) yang lebih tinggi dibandingkan air yang memiliki pH netral.
Ketika air tersebut terus-menerus masuk ke dalam tanah, ion H⁺ yang terbawa air dapat memengaruhi keseimbangan kimia tanah.
Dalam jangka panjang, terutama jika jumlah dan frekuensi penyiraman cukup tinggi, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap penurunan pH tanah.
Maka itu, kondisi pH air untuk penyiraman perlu dicek secara berkala, terutama pada lahan yang menggunakan air terus-menerus.
Kondisi Geologi Tanah

Beberapa wilayah di Indonesia memang memiliki tanah yang secara alami cenderung masam karena dipengaruhi oleh bahan induk dan kondisi geologi setempat.
Keberadaan mineral tertentu, seperti mengandung sulfur, besi, dan aluminium, dapat mempengaruhi karakteristik kimia dan tingkat keasaman tanah.
Karena faktor geologi merupakan kondisi alami, karakteristik tanah seperti ini tidak selalu dapat dicegah. Tapi, tingkat keasamannya dapat diketahui melalui pengukuran pH, sehingga treatment yang sesuai dapat ditentukan.
Cara Mengatasi Tanah Asam
Untuk mencegah tanah asam, Anda dapat melakukan beberapa hal berikut ini yaitu:
Periksa Kondisi Drainase

Drainase tanah jadi hal yang penting untuk mencegah terjadinya genangan.
Seperti yang sudah dibahas, genangan yang berlangsung terlalu lama dapat mengubah kondisi kimia dan biologis tanah sehingga berpotensi mempengaruhi pH tanah.
Maka dari itu, pastikan sistem drainase mampu mengalirkan kelebihan air dengan baik dan tidak menyebabkan air menggenang terlalu lama di area perakaran tanaman.
Periksa pH Sumber Air

Selanjutnya, periksa juga pH sumber air yang digunakan untuk menyiram tanaman. Air dengan pH yang terlalu rendah dapat membawa ion H⁺ ke dalam tanah dan jika digunakan terus-menerus berpotensi mempengaruhi kondisi pH tanah.
Sebaiknya gunakan sumber air dengan pH yang sesuai untuk kebutuhan tanaman.
Hindari penggunaan air yang terlalu asam secara terus-menerus.
Untuk pengecekan sederhana, Anda dapat menggunakan kertas indikator pH (lakmus) untuk mengetahui apakah air yang digunakan cenderung asam, netral, atau basa.
Ukur pH Tanah Lebih Dahulu

Sebelum Anda lanjut menggunakan pupuk dolomit, pastikan dahulu tingkat keasaman tanah dengan menggunakan pH meter.
Hasil pengukuran pH menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pengapuran. Dosis pupuk dolomit juga perlu disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik tanah serta target pH yang ingin dicapai.
Dengan begitu, penggunaan dolomit tidak dilakukan sekadar berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan kondisi tanah yang sebenarnya.
Gunakan Pupuk Dolomit

Pupuk dolomit menjadi salah satu treatment utama untuk membantu menaikkan pH tanah yang terlalu asam.
Dolomit mengandung kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk mineral karbonat yang dapat membantu menetralkan keasaman tanah sekaligus menambahkan unsur Ca dan Mg.
Tapi, penggunaan pupuk dolomit harus dilakukan setelah pengukuran pH tanah untuk menentukan dosis yang digunakan.
Masalahnya, penggunaan pupuk dolomit yang berlebihan dapat mengakibatkan tanah menjadi basa sehingga tidak ideal bagi tanaman.
Sebagai gambaran mengenai dosis penggunaan dolomit, Anda dapat melihat pembahasan yang sudah kami buat dalam artikel Cegah Tanah Asam, Ini Manfaat Pupuk Dolomit.
Jadi, jangan asal tabur dolomit. Ukur pH tanah terlebih dahulu dan sesuaikan dosisnya dengan kebutuhan lahan.
Atur Kembali Penggunaan Pupuk

Selain memperbaiki pH tanah, penggunaan pupuk juga perlu diperhatikan.
Jangan sampai pemberian pupuk secara berlebihan justru meningkatkan risiko pengasaman tanah, terutama pada penggunaan pupuk nitrogen seperti urea dan NPK yang dilakukan secara terus-menerus tanpa menyesuaikan kebutuhan tanaman.
Karena itu, gunakan pupuk sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi tanah.
Untuk mendukung kesuburan tanah dalam jangka panjang, penggunaan pupuk organik cair dapat menjadi salah satu pilihan karena mengandung bahan organik dan unsur yang dapat membantu mendukung kualitas tanah.
Penggunaan pupuk organik cair bukan berarti menggantikan seluruh kebutuhan unsur hara dari pupuk anorganik. Namun, penggunaannya dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan tanah yang lebih berimbang.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perbandingan pupuk kimia dan pupuk organik cair, Anda dapat membaca artikel Lebih Bagus Mana, Pupuk Kimia atau Pupuk Organik Cair?.
Pantau Kembali pH Tanah

Terakhir, jangan lupa untuk memantau kembali pH tanah secara berkala.
Pengukuran sebaiknya tidak dilakukan pada satu titik saja, paling tidak ada 3 titik pengukuran dan menyesuaikannya dengan luas serta kondisi lahan.
Pemantauan pH tanah sangat penting untuk mengetahui apakah pH tanah sudah berada pada kondisi yang sesuai atau justru kembali mengalami penurunan.
Dengan begitu, perubahan kondisi tanah dapat diketahui lebih awal sebelum mulai mengganggu pertumbuhan dan hasil panen.
Sekarang ini, pemantauan kondisi tanah juga dapat dilakukan dengan bantuan teknologi IoT (Internet of Things). Menurut nayakapratama.co.id, teknologi IoT Agriculture dapat membantu memantau kondisi pH tanah pada area pertanian atau perkebunan melalui satu
Walaupun ada biaya investasi yang harus dikeluarkan, teknologi ini dapat menjadi pilihan tepat bagi pemilik lahan pertanian atau perkebunan dengan area yang luas.
Masalah tanah asam dapat dikelola selama kondisi tanah dipantau dengan baik.
Kunci utamanya adalah melakukan pengecekan pH secara berkala, sehingga perubahan kondisi tanah dapat diketahui lebih awal dan segera ditangani.
Jangan sampai perubahan pH baru diketahui setelah mulai mengganggu pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Tanya Jawab
Apakah Bisa Menentukan Tanah Asam Dari Fisiknya?
Kondisi fisik tanah tidak bisa digunakan untuk memastikan bahwa tanah tersebut bersifat asam. Anda tetap perlu menggunakan pH meter atau pengujian laboratorium.
Sumber Referensi
Mengatasi Gejala “Asem-Aseman” pada Pertanaman Padi — Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang

