Templok VS Hydroseeding, Mana yang lebih efektif?

by | Nov 7, 2025

Dalam kegiatan revegetasi lahan, ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk memulihkan kondisi lahan agar kembali hijau.

Dua di antaranya yang paling sering dipilih adalah metode templok dan hydroseeding. Keduanya sama-sama bertujuan untuk menumbuhkan kembali vegetasi di lahan gundul atau kritis.

Namun, jangan salah, meskipun tujuannya sama, kedua metode ini memiliki cara kerja, keunggulan, dan tantangan yang berbeda. Nah, seperti apa sih perbedaan antara templok dan hydroseeding ini? Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Metode Masing-Masing

Kedua metode ini memiliki cara kerja yang berbeda, berikut penjelasannya masing-masing

Templok

Metode templok dilakukan dengan cara menempelkan campuran media tanam secara langsung ke area yang akan direvegetasi.

Disebut “templok” karena bahan tanam seperti zat tumbuh, tanah, dan benih ditempelkan secara manual ke permukaan lahan yang gundul atau kritis.

Prosesnya biasanya diawali dengan pembuatan adonan media tanam, yang terdiri dari tanah subur, kompos, pupuk, dan perekat alami agar menempel kuat di permukaan tanah. Setelah itu, adonan tersebut “ditemplokkan” satu per satu ke area revegetasi oleh tenaga lapangan.

Karena prosesnya dilakukan secara manual, metode ini membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak dan ketelitian tinggi, terutama jika dilakukan di area lereng. 

Meskipun terlihat sederhana, metode templok memerlukan kesabaran agar media tanam bisa menempel kuat dan benih dapat tumbuh dengan baik.

Hydroseeding

Berbeda dari templok, metode hydroseeding merupakan teknik revegetasi modern yang lebih praktis dan efisien. Proses ini menggunakan mesin semprot khusus bernama hydroseeder.

Istilah hydroseeding berasal dari kata “hydro” yang berarti cairan dan “seed” yang berarti benih. Artinya, metode ini menyemprotkan campuran cairan yang berisi benih ke permukaan tanah. 

Seluruh bahan dicampur langsung di dalam mesin hydroseeder, lalu disemprotkan ke area revegetasi menggunakan selang bertekanan tinggi. 

Karena cara kerjanya cukup dengan penyemprotan, metode ini bisa dilakukan lebih cepat dan tidak memerlukan tenaga lapangan untuk turun langsung ke lahan. Bahkan area yang sulit dijangkau seperti lereng curam atau tebing pun tetap bisa dihijaukan dengan mudah.

Kelebihan Templok

Metode templok ini menjadi pilihan dalam proses revegetasi karena memiliki beberapa kelebihan, yaitu:

Mudah Dilakukan

Metode templok termasuk salah satu metode revegetasi yang mudah dilakukan. Prosesnya cukup sederhana karena media tanam hanya perlu ditempelkan langsung ke area yang ingin ditanami tanpa membutuhkan alat berat atau mesin khusus. 

Bahkan, metode templok bisa dilakukan oleh masyarakat sekitar tanpa pelatihan khusus.

Karena prosesnya sederhana, metode ini cocok di area lahan yang kecil atau area yang mudah diakses. 

Hemat Biaya

Metode templok dapat dikategorikan sebagai metode revegetasi yang hemat biaya karena prosesnya yang sederhana dan tidak memerlukan alat berat maupun mesin khusus. 

Prosesnya cukup menggunakan media tanam, zat tumbuh, dan benih, lalu ditempelkan langsung ke permukaan tanah.

Dengan kebutuhan peralatan yang minimal, biaya pelaksanaan pun jauh lebih efisien dibandingkan metode modern seperti hydroseeding. 

Karena itu, templok sering menjadi pilihan andalan untuk revegetasi lahan tandus dengan anggaran terbatas namun tetap ingin menghasilkan pertumbuhan vegetasi yang baik.

Prosesnya yang sederhana dan biayanya yang murah memang membuat metode templok sering menjadi pilihan utama untuk revegetasi lahan. Khususnya di area yang tidak begitu luas dan mudah diakses. 

Kekurangan Templok

Walaupun metode ini termasuk pilihan ekonomis untuk revegetasi lahan, metode ini juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan sebelum diterapkan:

Kurang Efektif

Metode templok dapat dibilang kurang efektif dalam proses revegetasi lahan. Kenapa demikian? Hal ini karena sistemnya yang dilakukan secara manual, di mana media tanam ditempelkan satu per satu ke permukaan tanah. 

Akibatnya, akan muncul jarak antar templokan yang tidak selalu merata. Jarak-jarak kosong inilah yang berpotensi menjadi jalur erosi kecil, terutama saat hujan deras. 

Jika kondisi tersebut terjadi terus-menerus, jalur kecil ini bisa melebar dan menyebabkan erosi yang lebih besar. Selain itu, pertumbuhan vegetasi juga cenderung tidak rapat karena penyebaran benihnya tidak merata.

Pengerjaan Cenderung Lebih Lama

Selain kurang efektif dalam penyebaran benih, metode templok juga memiliki kekurangan pada waktu pengerjaan. Karena prosesnya dilakukan secara manual, di mana setiap media tanam harus di tempelkan satu per satu jadi pengerjaan revegetasi dengan metode ini cenderung memakan waktu lebih lama

Kesimpulan Metode Templok

Dari kelebihan dan kekurangannya, dapat disimpulkan bahwa metode templok tetap bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kegiatan revegetasi yang berskala kecil dan memiliki anggaran terbatas. Prosesnya sederhana dan biaya pelaksanaannya relatif murah, sehingga cocok digunakan pada lahan yang tidak terlalu luas atau mudah dijangkau.

Selain itu, jika tujuan revegetasi lebih mengarah pada aspek estetika atau penghijauan ringan, metode templok sudah cukup efektif digunakan tanpa perlu beralih ke metode yang lebih kompleks seperti hydroseeding.

Kelebihan Hydroseeding

Metode hydroseeding sering menjadi pilihan utama bagi banyak perusahaan, terutama di sektor pertambangan untuk kegiatan revegetasi dan reklamasi lahan pascatambang. Berikut beberapa kelebihan yang membuat hydroseeding banyak dipilih:

Pertumbuhan Lebih Rapat

Penyebaran benih dengan metode hydroseeding, jauh lebih rapat dan merata dibandingkan metode templok. 

Hal ini karena proses penyebaran dilakukan dengan cara menyemprotkan campuran benih, zat tumbuh, pupuk, dan perekat langsung ke permukaan tanah menggunakan mesin hydroseeder.

Dengan teknik hydroseeding, benih dapat menempel secara merata di area revegetasi.
Begitu benih mulai tumbuh, hasil pertumbuhannya pun menjadi lebih rapat dan merata, sehingga permukaan lahan 100% hijau.

Bisa Menjangkau Area Sulit

Metode hydroseeding dapat membantu proses revegetasi pada area ekstrem seperti lereng curam. Inilah yang menjadi keunggulan utamanya, karena hydroseeding mampu menjangkau area yang sulit ditanami secara manual.

sarkan pengalaman kami sebagai kontraktor reklamasi tambang, metode ini sangat efektif digunakan di area dengan kemiringan tinggi karena prosesnya cukup dilakukan dengan penyemprotan menggunakan mesin hydroseeding tanpa harus turun langsung ke lapangan.

Inilah sebabnya hydroseeding banyak dipilih untuk lahan yang ekstrim seperti banyak lereng terjal dengan luas lahan yang sangat luas. Dengan metode ini, proses revegetasi dapat dilakukan lebih cepat, efisien, dan tetap aman bagi tenaga lapangan.

Pengerjaan Lebih Cepat

Metode hydroseeding juga cocok digunakan di area lahan yang luas namun membutuhkan revegetasi dalam waktu singkat. Karena benih disemprot menggunakan alat bertekanan tinggi dengan jangkauan yang jauh, proses penanaman bisa dilakukan lebih cepat tanpa perlu tenaga lapangan turun langsung ke area revegetasi. 

Dengan begitu, penyebaran benih menjadi lebih merata dan efisien.

Pencegahan Erosi

Terakhir, metode hydroseeding juga menjadi solusi efektif untuk mencegah erosi. Hal ini dikarenakan hasil pertumbuhan tanaman dari metode hydroseeding cenderung lebih rapat dan menyelimuti permukaan tanah.

Lapisan tanaman tersebut berfungsi sebagai pelindung alami dari hantaman air hujan. Saat hujan turun, daun tanaman menahan air agar tidak langsung menghantam tanah, sementara akar yang rapat membantu menahan struktur tanah agar tidak mudah terbawa aliran air (runoff).

Inilah kenapa hydroseeding menjadi salah satu kunci penting dalam pencegahan erosi, khususnya di area dengan kemiringan tinggi seperti lereng.

Kekurangan Hydroseeding

Nah, meskipun hydroseeding dikenal efektif dalam proses revegetasi lingkungan, metode ini juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan, yaitu:

Biaya Cenderung Lebih Mahal

Di balik hasil yang cepat dan merata, metode hydroseeding memang membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibanding metode templok. Hal ini karena prosesnya memerlukan mesin khusus, bahan campuran hydroseeding, dan benih tanaman yang sesuai.

Kalau dilakukan secara mandiri, biayanya bisa membengkak karena harus membeli peralatan lengkap. Apalagi harus diperhatikan juga bahan hydroseeding yang digunakan. Apakah cocok dengan mesin atau tidak? Karena kalau tidak cocok, bisa saja pompa tersumbat dan malah bikin pekerjaan terhambat.

Kalau menggunakan jasa hydroseeding memang bisa sedikit menekan biaya, tapi tetap saja harganya lebih tinggi dibanding metode templok. 

Namun, biaya jasa hydroseeding bisa lebih efisien jika area yang direvegetasi cukup luas. Itulah sebabnya, hydroseeding sering diterapkan pada lahan reklamasi tambang atau lereng besar yang membutuhkan hasil cepat dan merata.

Butuh Keahlian Khusus

Terakhir, metode hydroseeding juga membutuhkan keahlian khusus dalam proses pengerjaannya. Jadi, bukan sekadar menyemprot benih seperti menyiram tanaman, tapi harus dilakukan dengan teknik yang teliti dan berlapis supaya penyebaran benih benar-benar merata di seluruh area.

Kalau dilakukan sembarangan, hasil revegetasi bisa tidak merata. Ada bagian yang tumbuh lebat, tapi ada juga yang kosong atau jarang-jarang. 

Akibatnya, area yang belum tertutup tanaman harus diperbaiki lagi, baik dengan hydroseeding ulang atau bahkan menggunakan metode templok untuk menutup area yang belum hijau.

Proses Hydroseeding di Area Lereng

Kesimpulan Metode Hydroseeding

Dari berbagai kelebihan dan kekurangannya, bisa disimpulkan bahwa metode hydroseeding merupakan cara revegetasi lahan yang efektif dan efisien, terutama untuk area yang luas.

Bahkan di wilayah ekstrem seperti lereng, metode ini tetap bisa diterapkan karena mampu menutup permukaan tanah secara merata dan berfungsi sebagai selimut pelindung alami dari erosi.

Meski begitu, metode ini memang membutuhkan biaya yang lebih tinggi jika diterapkan di area kecil. Karena itu, hydroseeding lebih cocok digunakan untuk proyek berskala besar agar biayanya tetap efisien dan hasil revegetasinya maksimal.

Pengalaman Antares di Lapangan

Project Hydroseeding Antares Lereng >70 Derajat

Kesimpulan ini tidak hanya didasarkan pada teori, tetapi juga berasal dari pengalaman langsung tim Antares di lapangan. Dalam beberapa proyek revegetasi yang kami tangani, kedua metode, yaitu templok dan hydroseeding yang memang digunakan, namun dengan tujuan dan kondisi yang berbeda.

Metode templok biasanya kami terapkan untuk area kecil dan hanya bertujuan estetika, karena prosesnya sederhana dan biayanya lebih efisien.

Sedangkan hydroseeding lebih sering kami pilih untuk area luas dan ekstrem, terutama yang memerlukan solusi pengendalian erosi (erosion control).

Pertumbuhan tanaman dari metode hydroseeding jauh lebih rapat sehingga tanah menjadi lebih kuat dan terlindungi dari erosi. Lapisan tanaman yang terbentuk juga berfungsi sebagai selimut alami, yang menahan air hujan agar tidak langsung menghantam tanah dan mencegah terjadinya runoff atau jalur erosi kecil.

Jadi Pilih Templok atau Hydroseeding?

Masih bingung mau pakai metode hydroseeding atau templok? kami bantu rangkum biar lebih mudah memilih:

Untuk Lahan Kecil

Kalau area revegetasi tergolong kecil dan tidak rawan erosi, metode templok bisa menjadi pilihan terbaik. Prosesnya sederhana, biayanya lebih efisien, dan cocok untuk kebutuhan estetika lingkungan.

Untuk Lahan Luas

Kalau areanya luas dan butuh hasil cepat, metode hydroseeding lebih direkomendasikan. Penyebaran benihnya merata dan prosesnya jauh lebih cepat dibandingkan metode manual.

Untuk Lereng Ekstrim dan Rawan Erosi

Nah, kalau lokasinya di area lereng dengan kemiringan ekstrim atau lahan yang rawan erosi, hydroseeding adalah pilihan wajib. Teknik semprotannya mampu menempelkan benih di area yang sulit dijangkau dan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang rapat, sehingga efektif mencegah erosi.

Sudah tahu kan mana yang lebih efektif? Baik metode templok maupun hydroseeding, keduanya punya keunggulan masing-masing. 

Jadi, pilih metode revegetasi yang paling sesuai dengan kondisi lahan dan tujuan penghijauan agar hasilnya bisa maksimal!

Bagikan Artikel Kami

Ikuti Kami

Artikel Lainnya