+62 822 600 700 80 info@antaresenergi.com

Limbah bahan berbahaya dan beracun atau yang disingkat dengan B3, diartikan sebagai sisa atau limbah yang dihasilkan dari proses produksi dengan kandungan bahan berbahaya dan beracun karena memiliki jumlah dan konsentrasi toxicity, reactivityflammability dan corrosivity  yang mampu mencemari dan merusak lingkungan, serta membahayakan kesehatan manusia (BAPEDAL, 1995). Karena keberadaannya yang mengancam ekosistem di sekitarnya, limbah B3 harus ditangani dengan tepat agar tidak merusak dan membahayakan.

Kurang tepat jika Anda beranggapan limbah B3 dapat ditimbun, dibuang, atau dibakar begitu saja. Pengelolaan limbah B3 membutuhkan penanganan khusus dibandingkan limbah yang lain agar bisa mengurangi bahkan menghilangkan kadar racun didalamnya. Adapun metode pengelolaan limbah B3 yang umum digunakan dan terbukti efektif dalam mencegah resiko terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan dapat Anda simak melalui daftar berikut ini.

Metode Pengelolaan Limbah B3

  1. Pengelolaan Limbah B3 secara Fisik

Secara fisik, limbah B3 dapat diolah menggunakan 3 metodde yang berbeda. Sesuaikan dengan karakteristik limbah dan lingkungan Anda dalam memilih metode yang digunakan untuk pengelolaan limbah B3.

  1. Menyisihkan komponen, meliputi stripping, dialisa, adsorpsi, electrodialisa, kristalisasi, leaching, solvent extraction, dan reverse osmosis.
  2. Memisahkan antara padatan dengan cairan, meliputi thickening, sedimentasi, floatasi, filtrasi, koagulasi, sentrifugasi, dan klarifikasi
  3. Membersihkan gas, meliputi wet scrubbing, elektrostatik presipitator, adsorpsi karbon aktif, dan penyaringan partikel.
  4. Pengelolaan Limbah B3 secara Kimia

Melalui metode kimia, akan terjadi beberapa proses seperti stabilisasi atau solidifikasi, reduksi—oksidasi, absorpsi, prolisa, penukaran ion, pengendapan, elektrolisasi, dan netralisasi.

Secara keseluruhan, pengelolaan limbah B3 secara fisik dan kimia yang paling umum digunakan adalah stabilisasi atau solidifikasi. Sebuah proses yang memungkinkan terjadinya perubahan sifat kimia dan bentuk fisik melalui tambahan senyawa pereaksi atau bahan peningkat tertentu yang bisa digunakan untuk membatasi dan memperkecil pelarutan, penyebaran kadar atau daya racun limbah. Proses ini biasanya ditemukan pada bahan seperti termoplastik, kapur (CaOH2), serta semen.

  1. Pengelolaan Limbah B3 secara Biologi

Pengelolaan limbah B3 secara biologi paling dikenal dengan sebutan viktoremediasi serta bioremediasi. Vitoremediasi merupakan penggunaan tumbuhan dalam proses akumulasi serta absorpsi berbagai bahan beracun dan berbahaya dari tanah. Sementara bioremediasi ialah penggunaan jenis mikroorganisme dan bakteri sebagai bahan untuk mengurai atau mendegradasi limbah B3. Kedua proses tersebut tak kalah efektif untuk mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan oleh limbah B3.

Apalagi biaya yang dibutuhkan lebih terjangkau jika dibandingkan dengan metode fisik dan kimia, meski secara praktis metode biologi juga memiliki kelemahan akibat prosedur alaminya. Jika dipakai untuk pengelolaan limbah B3 dalam jumlah besar, waktu yang dibutuhkan lebih lama. Serta penggunaan makhluk hidup di dalam proses biologi juga beresiko membawa berbagai senyawa beracun yang dibawa ke dalam rantai makanan ekosistem.

Selain menyesuaikan karakteristik dan jenis, pengelolaan limbah B3 juga harus mempertimbangkan 5 hal penting berikut ini.

  • Biaya untuk proses dan harga alat yang terjangkau
  • Kebutuhan lahan
  • Kemudahan dalam mengoperasikan dan merawat alat
  • Mampu menjadi solusi penanganan limbah B3 tanpa dampak yang berbahaya bagi lingkungan
  • Ketersediaan suku cadang

Membuang Limbah B3

Selain dikelola dengan 3 cara di atas, limbah B3 juga bisa dibuang di tempat dan metode tertentu, seperti yang akan dijabarkan dalam penjelasan di bawah ini.

  1. Kolam Penyimpanan

Khusus untuk limbah B3 jenis cair, kolam diperbolehkan sebagai tempat untuk menampungnya. Asalkan telah diberikan lapisan pelindung yang berfungsi untuk mencegah adanya perembesan limbah. Saat limbah cair mulai menguap, akan diikuti dengan senyawa B3 yang terkonsentrasi lalu menjadi endapan di dasar. Proses ini adalah titik lemahnya karena bisa memakan lahan akibat limbah yang terus tertimbun. Sehingga, rawan terjadi kebocoran pada lapisan pelindung kolam yang diikuti dengan penguapan senyawa B3 dan mengakibatkan pencemaran udara.

2. Sumur Injeksi atau Sumur Dalam

Secara teori, kinerja pembuangan limbah pada sumur injeksi akan membuatnya terperangkap di dalam lapisan dan meminimalisir resiko pencemaran tanah dan air. Karena adanya proses pompa limbah melalui pipa yang dialirkan ke lapisan batuan di bawah air tanah dalam dan dangkal Tapi, tetap ada resiko yang mungkin terjadi yaitu bocor atau korosi pada pipa (lapisan batuan pecah) yang diakibatkan oleh gempa dan membuat limbah akan merembes ke lapisan luar tanah.

  1. Landfill Khusus Limbah B3

Limbah B3 akan dimasukkan ke dalam tong atau drum yang dikubur ke dalam landfill khusus. Dilengkapi dengan berbagai peralatan moditoring guna mengontrol dan mengawasi kondisi limbah B3. Karena penanganannya yang ekstra khusus ini, membuang limbah di landfill membutuhkan biaya operasi tinggi. Tapi jika dilakukan dengan tepat, hasilnya sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Meski pada akhirnya limbah akan terus menumpuk dan tidak bisa dijadikan sebagai solusi untuk jangka panjang.

Teknologi Terkini Pengelolaan Limbah B3

Seiring dengan perkembangan teknologi, ada 3 metode terkini yang gencar dilakukan oleh banyak industri masa kini, seperti berikut ini.

  1. Insinerasi atau Pembakaran (Incineration)

Metode ini dipakai untuk mengurangi volume 90% dan massa limbah 75 % yang membutuhkan pengawasan ketat selama proses berlangsung untuk memastikan tidak terjadi pencemaran udara akibat pembakaran gas beracun.

  1. Chemical Conditioning

Metode ini bertujuan untuk: (1) mendestruksi senyawa atau organisme pathogen, (2) memastikan keamanan lumur yang dilepas dapat diterima dengan baik di lingkungan, (3) lumpur memiliki kandungan senyawa organik yang harus distabilkan, (4) mereduksi volume, (5) memanfaatkan efek samping yang dihasilkan karena punya nilai ekonomi (gas methane).

  1. Solidification atau Stabilization

Stabilisasi yaitu proses mencampur limbah dan bahan aditif yang berfungsi untuk mengurangi laju migrasi dari bahan pencemar pada limbah, serta sebagai upaya untuk mengurangi jumlah racun di dalamnya. Solidifikasi yaitu proses memadatkan bahan berbahaya melalui penambahan aditif. Kedua hal tersebut sangat berkaitan dan seringkali disamakan artinya. Berdasarkan mekanismenya, kedua proses di atas diklasifikasikan menjadi 6 golongan sebagai berikut.

  1. Macroencapsulation, proses pembungkusan kandungan bahan berbahaya pada limbah di dalam maktriks struktur berukuran besar.
  2. Microencapsulation, prosesnya serupa dengan microencapsulation, yang membedakan adalah pembungkusannya dilakukan secara fisik ke dalam struktur kristal yang berada pada tingkatan mikroskopik
  3. Precipitation
  4. Adsorpsi, proses pengikatan bahan pencemar pada bahan pemadat yang dilakukan secara elektrokimia melalui prosedur adsorpsi.
  5. Absorbsi, proses solidifikasi pada bahan pencemar yang menggunakan teknik penyerapan pada bahan padat
  6. Detoxification, mengurangi dan menghilangkan tingkat toksitsitas pada senyawa beracun sehingga bisa berubah menjadi senyawa lain yang tidak berbahaya.

Lebih detail, perihal soldifikasi atau stabilitasi telah diatur oleh BAPEDAL sesuai dengan Kep-04/BAPEDAL/09/1995 serta Kep-03/BAPEDAL/09/1995. Oleh karena itu, sudah seharusnya pengelolaan limbah B3 dilakukan dengan tepat agar tidak mengancam keberadaan lingkungan di sekitarnya.