+62 822 600 700 80 info@antaresenergi.com

Air asam tambang, disebut acid mine drainage sebagai istilah resminya merupakan nama yang dipakai untuk menyebutkan leachate (air lindian), seepage (rembesan), dan drainage (aliran). Oksidasi alamiah mineral belerang (sulfida) membawa pengaruh yang mengakibatkan terjadinya air asam tambang dan terkandung di dalam bebatuan selama berlangsungnya proses penambangan. Meski sebenarnya, air asam tidak hanya terbentuk akibat proses penambangan, melainkan ada banyak kegiatan lainnya yang bisa memicu keberadaannya.

Secara teori, air asam akan otomatis terbentuk karena kegiatan yang berpeluang mengakibatkan teroksidasi dan terbukanya mineral belerang. Sehingga, kegiatan lain seperti pembuatan jalan, drainase, pertanian, hingga pengolahan tanah di lingkungan yang punya kandungan mineral belerang akan otomatis menghasilkan air asam yang secara karakteristik serupa dengan pertambangan.

Mengetahui hal tersebut, seharusnya membuat pemilik industri baik secara kelompok maupun individu memikirkan dengan tepat tindakan pengelolaan air asam tambang. Karena jika dibiarkan begitu saja akan membawa dampak yang tidak diinginkan oleh banyak pihak. Lantas, bagaimana cara pengelolaan air asam tambang yang tepat? Mari, sama-sama menyimak penjelasan berikut ini.

Pengelolaan Air Asam Tambang

Ada berbagai metode pengelolaan air asam tambang yang bisa diterapkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Salah satu yang paling popular adalah menambahkan Ca(OH)2 (senyawa alkali kapur padam) untuk dialirkan ke dalam seniment pond. Proses ini dilakukan dengan tujuan mengendapkan semua partikel padat yang tersuspensi. Sementara itu, air asam akan terus dinetralkan dengan cara menambahkan senyawa kapur padam lewat Liming Box dan langsung digerakkan menggunakan tekanan air.

Selanjutnya, air asam tambang yang dipastikan telah netral harus diendapkan kembali melalui kompartemen (settling pond) sebelum akhirnya dialirkan menuju badan air. Proses ini membutuhkan kontrol tetap untuk menjaga kualitas air buangan yang langsung terarah pada baku mutu. Oleh karena itu, dibutuhkan laboratorium khusus sebagai pengawas yang bertugas untuk memonitor sekaligus  menganalisa kualitas air yang dihasilkan.

Tidak seperti metode aktif, untuk pengelolaan pastif tambahan bahan kimia tidak perlu dilakukan terus menerus. Hal tersebut membawa dampak besar berupa pengurangan penggunaan dan pemeliharaan peralatan operasiona. Karena metode pasif bekerja dengan mengandalkan bio geokimiawi sebagai proses utamanya. Berlangsung kontinyu dan alami ketika meningkatkan dan mengikat PH, bahkan berlaku untuk proses pengendapan logam yang terlarut. Wajar bila akhirnya mayoritas ahli menyebut pengelolaan air asam tambang secara pasif adalah yang paling efektif dan efisien.Tentu ilmu praktis tidak akan bisa menjawab mutlak ya atau tidak. Meski sebagian pakar meyakini bahwa yang paling efektif adalah metode aktif, bukan berarti tak memiliki celah sama sekali. Karena ada resiko efisiensi yang harus dipahami yaitu besarnya biaya pengeluaran untuk energi eksternal dan bahan kimia yang dibutuhkan. Oleh karena itu, butuh alternatif lain untuk pengelolaan air asam tambang, misalnya mencoba metode pasif.Apakah metode pengelolaan air asam tambang di atas adalah yang paling efektif?

Tidak semua industri telah dan mampu menerapkan metode pasif untuk pengelolaan air asam tambang, beberapa di antaranya masih dalam tahap pilot project untuk skala penelitian. Berbagai sumber daya lokal digunakan seperti tumbuhan air, batu gamping, limbah bahan organik dalam kegiatan ini. Jerami padi, kompos, serbuk kayu, serat kayu, bioludge adalah beberapa contoh limbah bahan organik yang sering dijumpai pada pilot project ini.

Nantinya, hasil olahan air asam tambang akan mengalir vertikal sesuai dengan sistem tekanan pada grativitas hidroliknya di bagian dalam. Sementara pada metode AW terjadi sebaliknya, karena  air asam tambang mengalir horizontal di bagian permukaan sistem yang tersusun dari bahan organik serta vegetasi tumbuhan yang berfungsi sebagai media untuk menanam berbagai jenis tumbuhan.Ada dua metode yang dipakai pada penelitian ini, yaitu SAPS (Successive Alkalinity Producing System) dan AW (Aerobic Wetland). Kombinasi antara keduanya membentuk sebuah istilah baru yang disebut dengan istilah sel. Kemudian dilanjutkan dengan penyusunan berseri dari dua sel. Sebagai informasi tambahan, SAPS sejak awal dikenal sebagai salah satu metode pengelolaan air asam tambang pasif. SAPS tersusun dari kandungan batu gamping dan lapisan bahan organik yang disusun vertikal dengan tingkat ketebalan tertentu.

Metode Pasif Pengelolaan Air Asam Tambang

Ada 2 proses utama dalam sistem pengelolaan pasif yang menjadi penyebab meningkatnya PH, meliputi batu gamping larut, serta sulfat terduksi secara biologis. Dua proses tersebut membawa hasil berupa alkalinitas yang berbentuk HCO3 (bikarbonat) sebagai senyawa yang bersifat netral. Untuk mendalami proses tersebut, berikut paparan mekanisme yang memengaruhi penurunan pada logam terlarut.

  1. Logam dapat mengendap akibat terjadinya proses hydrolysis dan oksidasi
  2. Khusus bahan organik seperti kompos, adsorpsi logam memiliki potensi tinggi untuk terjadi
  3. Adanya interaksi antara S2- (sulfide) yang dihasilkan melalui proses sulfat yang tereduksi bersamaan dengan logam yang memiliki jumalh valensi 2 (misalnya Fe2 + serta Mn2+) sehingga menghasilkan bentuk baru dari endapan logam sulfide.
  4. Adanya biosorpsi logam yang dilakukan oleh mikroorganisme dan vegetasi tumbuhan air. Adapun contoh mikroorganisme yang melakukan biosrpsi logam seperti fungi, bakteri, serta alga yang bisa tumbuh di atas lapisan atau permukaan bahan organik.

Secara praktik, metode pasif terbukti mampu meningkatkan dan memperbaiki kualitas dari air asam tambang, khususnya ketika menerapkan teknologi wetland. Seperti keajaiban, flora dan fauna seperti katak, serangga, dan ikan bisa menempati lingkungan baru yang dihasilkan oleh wetland.

Namun, meski terlihat menjanjikan sedemikan rupa, setiap industri harus memperhatikan 2 hal ketika menerapkan metode pengelolaan air asam tambang pasif. Berikut adalah 2 hal yang dimaksud.

  • Topografi serta ketersediaan pada area yang ada
  • Debit dan kualitas air asam tambang yang menjadi sasaran pengolahan

Kedua faktor tersebut harus diperhatikan khusus, karena nantinya akan digunakan sebagai parameter untuk mengukur dan mennetukan desain, jenis, dan ukuran pengolahan ynag disesuaikan dengan karakteristik area masing-masing.

Sesuai dengan kebijakan yang diterapkan masing-masing industri, metode yang dipakai bisa mengalami perubahan, modifkasi, atau bahkan mencoba metodenya masing-masing. Semua sah-sah saja dilakukan, sama halnya ketika Anda menitik beratkan pengelolaan air asam tambang dengan menggunakan kombinasi metode aktif (tambahan senyawa alkali bersifat netral) bersama dengan metode pasif.

Anda tidak akan pernah tahu hasilnya jika tidak mencoba, asalkan dilakukan dengan perhitungan dan pertimbangan yang tepat, bisa jadi kombinasi tersebut menghasilkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan air asam tambang sesuai yang diharapkan. Sekali lagi, proses ini tidak bisa diabaikan dan dilewati begitu saja, karena membawa dampak yang cukup besar terhadap lingkungan sekitar. Jika tidak ditangani dengan tepat, bukan mustahil akan terjadi pencemaran dan kerusakan pada lingkungan sekitar, bahkan berpotensi mengancam kesehatan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.