+62 822 600 700 80 info@antaresenergi.com

Sering kita mendengar terjadinya erosi atau longsor pada lereng. Jika lereng tersebut jauh dari pemukiman atau aktivitas penduduk tidak akan ada masalah, tetapi jika erosi terjadi pada lingkungan yang ramai pasti akan menimbulkan masalah baru. Bagaimana erosi bisa terjadi?

Pada dasarnya erosi pada lereng disebabkan oleh kestabilan lereng yang berkurang, antara lain disebabkan oleh:

  1. Geometri lereng
    Bentuk lereng yang terjal akan membuat lereng lebih beresiko untuk longsor dibanding geometri lereng yang landai
  2. Kohesi (gaya geser) tanah atau batuan
    Kohesi adalah kekuatan ikat tanah atau batuan. Kohesi yang besar akan membuat lereng semakin kuat. Contoh kohesi paling besar adalah batuan, sedangkan kohesi paling rendah adalah pasir
  3. Struktur Geologi
    Struktur geologi yang terdapat sesar dan patahan akan memperbesar kemungkinan timbulnya erosi. Hal ini paling sulit dimitigasi resikonya karena struktur geologi tidak nampak dan pergerakannya sulit untuk diprediksi
  4. Tinggi muka air tanah
    Semakin tinggi muka air tanah, maka bobot isi tanah semakin berat dan semakin mudah pula tanah akan longsor. Tinggi muka air tanah ini dapat berasal dari sungai di sekitar atau curah hujan yang tinggi
  5. Cuaca
    Cuaca atau iklim dengan intensitas hujan tinggi akan memperbesar resiko longsor
  6. Gaya Luar
    Gaya luar dapat berupa getaran kendaraan, ledakan dan lain sebagainya. Semakin besar gaya dari luar yang diterima lereng, maka akan mengurangi kestabilan lerengnya

Ke-enam faktor tersebut yang paling berpengaruh besar terhadap timbulnya erosi pada lereng. Bagaimana penanganan yang paling efektif dan efisien terhadap lereng yang rentan terhadap erosi? Melakukan pembetonan seluruh dinding? Mungkin efektif tetapi sangat tidak efisien karena harganya sangat mahal dan perawatannya juga sulit.

Penanganan yang paling efektif dan efisien terhadap lereng yang miring adalah dikembalikan pada bentuk alaminya yaitu adanya rumput, tanaman sedang yang berakar kuat dan pohon yang berakar besar. Ini yang kami lakukan dengan menggunakan metode Antares Erosion Control, lereng dibuat sealami mungkin. Karena pada dasarnya yang alami itu yang paling dapat bertahan dalam jangka panjang.

Metode Antares Erosion Control dimulai dengan:

  1. Melakukan pemasangan coconet di seluruh dinding lereng yang dilanjutkan dengan penyemprotan hydroseeding dengan benih rumput atau LCC (legume cover crop). Penanaman rumput atau LCC di lereng ini bertujuan untuk mengurangi aliran air dari atas (run off)
  2. Tahap ke 2 adalah penanaman vetiver di ujung bench; vetiver merupakan tanaman primadona saat ini. Terlebih ketika Presiden Jokowi mereferensikan tanaman vetiver untuk tanaman penahan erosi. Presiden mereferensikan tanaman vetiver ini bukan tanpa sebab, hal ini dikarenakan tanaman vetiver yang memiliki perakaran yang kuat dan panjangnya dapat mencapai 3-5 meter. Akar yang panjang tersebut, membuat tanah di sekitar vetiver menjadi solid. Sehingga dengan penanaman vetiver akan memperbaiki geometri lereng, meningkatkan kohesi tanah dan mengurangi muka air tanah

  3. Tahap akhir Antares Erosion Control adalah dengan penanaman pohon di bagian atas lahan yang datar; Pohon masih diperlukan untuk kestabilan lereng karena umur pohon yang lebih lama dari vetiver dan pohon dengan perakaran yang kuat dapat menyerap air lebih banyak.

Sehingga dengan penanaman rumput/LCC, vetiver dan pohon akan membuat kestabilan lereng semakin tinggi dan lahan tetap alami. Metode ini juga jauh lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan beton di sepanjang lereng.

Beberapa kesalahan yang masih terjadi di Indonesia seperti terlihat pada foto dibawah:

Foto ini diambil pada bulan Mei 2020 di exit tol JORR Kalimalang

Terlihat pada foto, lereng yang terkena erosi ditutup terpal dan pada bagian atas ditumpuk dengan karung yang berisi tanah. Jika dibiarkan maka bukan tidak mungkin erosi akan semakin luas dan jalan tol akan rusak di sisinya. Ada beberapa kesalahan yang menyebabkan lereng ini menjadi longsor antara lain:

  1. Rumput yang digunakan adalah rumput liar dengan perakaran lemah dan panjang akar sekitar 10-20 cm
  2. Pohon ditanam di lereng yang miring, sehingga semakin besar pohon dengan kondisi lereng yang tidak stabil akan membuat akar pohon mengikis tanah di bidang lereng dan pohon itu akan tumbang
  3. Tidak adanya penggunaan tanaman vetiver di ujung bench membuat tanah kehilangan daya cengkramnya

Perbaikan dari kondisi diatas adalah dengan cara:

  1. Penanaman vetiver di ujung bench untuk memperkuat perakaran dan meredam getaran kendaraan berat
  2. Penebangan pohon di lereng dan penanaman pohon di lahan landai bagian bawah lereng

Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada video youtube kami dengan mengetik: Antares erosion control

Salam,

Team Antares